Aku baru saja selesai melaksanakan shalat sunah dua rakaat ketika akan membuka diary ku dan mengingat-ingat tanggal, 30 Desember 2013. Aku lanjutkan mengingat ingat apa saja yang sudah aku selesaikan dan belum aku selesaikan di tahun ini.
Pikiranku menerawang jauh sambil membuka catatan-catatan harianku.
Tiba-tiba aku teringat satu hal yang membuatku bergidik ngeri. Tepatnya bulan
lalu di bulan November ketika perjalanan kembali ke kota pelajar, ayahku memita
kami berhenti di sebuah kota, beliau ingin mengambil beberapa berkas perkerjaan
pada kerabatnya.
Sesampainya disana kami diberi tahu bahwa adik kerabat tersebut sedang
sakit. Dengan segera kami memasuki rumahnya, dan aku terkaget-kaget dengan apa
yang sedang aku lihat. Adik orang tersebut memang tampak sedang sakit namun aku
pikir sakitnya lebih kepada sakit gangguan jiwa. Maksudku secara psikis ia
terluka, luka yang terlalu dalam.
Mau tau apa yag aku lihat? Perepuan berusia 25 tahun yang terus-menerus
berdoa namun, dengan pakaian yang seadanya bisa dibilang cukup terbuka. Aku bingung
melihat ketidak sesuaian ini, kata mereka, ia
sudah dibawa berobat kemana-mana namun belum juga ada perubahan. Ia sudah di bawa
ke orang pintar juga, ahh namanya juga di desa masih saja percaya dengan orang
pintar.
Beberapa saat setelah aku perhatikan, ia masuk ke kamar. Akhirnya aku dan
Mama berinisiatif untuk mengajaknya berbicara. Kupeluk ia, dan kubisikan
beberapa doa agar jiwanya lebih tenang. Kugenggam tangannya dan Mama
mengajaknya berkomunikasi. Terlihat benar bahwa doa-doa yang ia ucapkan hanya
dari bibir saja, tak ia rasakan dalam hati kesejukan doa yang ia baca. Kami
tuntun pelan-pelan mebacanya, agar ia dapat merasakan indahnya lantunan doa
yang ia rasakan. Lama-lama ia buka mulutnya untuk bercerita, awalnya aku dan
Mama bingung dengan apa yang ia ucapkan, lalu kami berdua memahami apa yang
sedang ia ceritakan.
Kami mulai paham, kuajak ia untuk mengambil air wudlu, ia tak mau, tak bisa
katanya. Awalnya rayuan kami tak berhasil, satu jam kemudian kuputuskan aku
saja yang mencontohkannya untuk sembahyang. Mama terus merayunya, hingga keluar
semua apa yang membebaninya. Kalau boleh jujur saat itu aku merasa iba
sekaligus ahh apa kata yang pantas menggambarkannya. Ia ceritakan apa saja yang
pernah ia lakukan selama ini dalam hidupnya. Ibunya menatap nanar sekaligus
penuh kasih sayang, ada penyesalan didalam tatapannya. “Sudah nduk, jangan
diulangi lagi. Cukup. Jangan buat ibu sedih. Ibu sudah memaafkanmu, cepet
sembuh nduk jangan kaya gini lagi.”
Kau tau siapa yang baru saja aku ajak bicara? Dia adalah seorang, maaf, PSK.
Selama ini ia penuhi kebutuhannya dengan “berjualan”. Beban penderitannya sudah
terlalu berat, dari apa yang ku dengar, ia jengah dengan pekerjaannya, dengan
ketenangan yang tidak juga ia dapatkan dan ia merasa jijik dengan dirinya
sendiri.
Akhirnya dapat kupahami, apa bebannya, apa yang ia rasakan. Sayangnya ia
tak tau harus kemana dan bagaimana untuk menyelesaikan semua ini. Hidupnya
sudah terlanjur malu, kata-kata yang ia simpan selama ini meluncur begitu saja
bersamaan dengan beban yang menggelayutinya. Begitulah gambaran jika ALLah
ingin menampakkan dosa kita di dunia, maka kita tak akan sanggup menahan rasa
malunya.
Setelah ia meminta maaf dengan orang
tuanya, kami memutuskan segera meneruskan perjalanan. Sampai kendaraan,
aku dan Mama merasakan hal yang sama, ini sedikit tidak sopan jika kami lakukan
di tempat tadi. Kami merasa sedikit mual, baru kali ini aku dan Mama se-intens
ini dengan permasalahan orang yang tidak pernah kami kenal sebelumnya. Dilain
sisi kami bersyukur, ia masih ada niatan untuk bertobat dan menyadari kesalahan
yang sudah ia perbuat.
Kembali ke diary ku tadi, akhirnya aku sadari kalau hidup kita terus
berjalan. Apa yang telah kita lakukan dimasa lalu akan berimbas pada hidup kita
sekarang dan kedepannya. Pilihlah hal-hal yang baik untuk membuat diri kita
lebih baik lagi. Jangan sampai Allah menjatuhkan siksanya di dunia karena
kesalahan yang kita pahami namun dilakukan terus menerus. Selamat merefleksikan
diri kebelakang untuk pencapaian tahun depan yang lebh baik :) - Mutiara L Cahya Ningrum


0 comments:
Post a Comment