Nak, kamu tahu bahwa menjadi
seorang ayah itu sangat indah dan sangat mulia, kenapa? karena dengan itu semua
membuat aku bangga bahwa telah mempunyai kerajaan kecil yang aku akan pimpin. Telah
aku siapkan sebuah perahu kecil untuk penghuni kerajaanku dan aku bawa ke
sebuah laut yang didalamnya ada ombak yang datar, ada badai yang menerjang dan
ada pemandangan indah yang tidak terelakkan.
Saat menanti kelahiranmu dulu,
besar kecemasanku yang belum hilang hingga saat ini dan masih saja teringat
masa-masa yang membuat aku mengeluarkan keringat, masa-masa cemas yang
entahlah, masa-masa lelah yang sangat-sangat bahagia. Kecemasan yang besar,
lelah, keringat dan indah itu karena didasari sebuah yang kita sebut cinta.
Meskipun demikian, ketahuilah, menjadi seorang ayah itu sangat berat dan sangat
sulit. Tapi aku akui, betapa sepanjang masa kehadiranmu disisiku, semua beban,
semua lelah, semua kesulitan hilang dan raib menemui makna keberadaanku dan
tugas seorang ayah terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah suatu masa
terindah dan paling aku banggakan dihadapan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan
sekalipun aku membanggakanmu saat nanti ketika aku duduk berduaan denganmu
dihadapanNya, hingga saat usia senja menanti disebuah kursi goyang, teh hangat
dan pelukan cinta.
Nak, saat pertama engkau hadir
melihat dunia dengan tangisanmu yang merdu yang membuat semua orang yang
melihat tersenyum bahagia, langsung kucium dan kupeluk engkau sebagai buah
cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah sebagai bukti dan pengikat bahwa aku dan
ibumu tak akan pernah terpisahkan oleh apapun dan siapapun.
Seiring waktu berjalan detik demi
detik yang slalu engkau petik tiap nafas dan ketika engkau tumbuh dan beranjak
besar dan telah pandai berjalan bahkan bicara dan ketika engkau telah mampu
membantah suruhanku dengan kata “ENGGAK MAU” , kamu tahu nak, membuat tersentak
dihatiku. Sehingga pada ahirnya membuat diriku tersadarkan siapa engkau
sesungguhnya. Engkau adalah sebuah mukjizat, bukan pula milik istriku sebagai
ibumu dan engkau adalah milik Tuhan yang dititipkan kepadaku. Dari itu aku
sadar bahwa tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdian
sesungguhnya hanya patut untukNya yaitu Tuhan.
Sejak saat itu, satu-satunya
usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Tugasku bukanlah
membuatmu dikagumi orang lain, tapi tugasku sebenarnya adalah membuatmu
dicintaiNya, dan aku harus mendekatkanmu kepadaNya. Inilah usaha terberatku,
karena disitu artinya aku harus terlebih dahulu memberikan contoh kepadamu
bagaimana mendekatkan diri sebagai seorang manusia denganNya. Keinginanku harus
sesuai dengan keinginanNya Sang Pemilikmu agar perjalananku untuk mendekatkanmu
kepadaNya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai
perjalanan itu berdua bergandengan dengan ibumu, tak pernah engkau kami biarkan
tersandung kerikil tajam, terperosok kelembah hitam. Kugenggam jemarimu kupeluk
jiwamu, agar dapat engkau rasakan hangatnya perjalanan cinta ini.
Saat engkau mengeluh lelah dan
letih saat berjalan, kutarik engkau dengan belaian kasih sayang karena kita
memang tak boleh berhenti disini. Perjalanan mendekat denganNya tak kenal letih
dan lelah, tak kenal berhenti. Berhenti berarti mati mata hati. Inilah
kata-kataku kepadamu setiap kali kubelai rambutmu, kupeluk dan kuusap air
matamu ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya nak, kalau nanti ketika
semua manusia dikumpulkan dihadapanNya, kudapati jarakku amat jauh dariNya, aku
ikhlas dan aku rela, karena seperti itulah aku di dunia ini. Tapi jika boleh
aku berharap, aku ingin melihatmu disaat itu engkau berada dalam pelukanNya
dekat sekali dengan Kasih dan CintaNya.
Bangga aku, aku bangga dan sangat
bangga kepadamu karena itulah bukti bahwa engkau yang dititipkan kepadaku telah
dapat pula aku bimbing engkau mulai sejak lahir.
Aku berharap do’aku ini selalu
didengar olehNya, semoga seterusnya dan seterusnya.Amin
Sumber : Dari Berbagai Sumber


0 comments:
Post a Comment